www.bmtpas.com Setiap ibadah dalam Islam tidak hadir tanpa makna. Di balik setiap perintah Allah terdapat pendidikan bagi hati, pembentukan karakter, dan pelajaran bagi kehidupan manusia. Salah satu syariat yang sarat makna adalah ibadah kurban. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan pada hari tertentu, melainkan simbol penghambaan, kepatuhan, pengorbanan, dan rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-nya.
Ketika seorang muslim berkurban, yang dipersembahkan bukan hanya seekor hewan, tetapi juga keikhlasan hati, ketakwaan, serta kesiapan mendahulukan perintah Allah di atas kecintaan terhadap harta dan kepentingan pribadi. Karena itu, Al-Qur’an menjelaskan bahwa syariat kurban bukanlah sesuatu yang baru, melainkan ibadah yang telah Allah tetapkan kepada umat-umat terdahulu. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Hajj ayat 34 yang menjelaskan tujuan utama kurban, yaitu mengingat dan menyebut nama Allah atas rezeki yang diberikan-Nya.
Ayat ini mengingatkan bahwa hakikat kurban bukan terletak pada darah dan dagingnya semata, tetapi pada penghambaan yang lahir dari hati yang bertakwa.
QS. Al-Hajj ayat 34
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
Terjemah:
“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh.”
QS. Al-Hajj ayat 34 mengandung perintah apa?
Ayat ini mengandung beberapa perintah penting:
1. Menyebut nama Allah ketika menyembelih
“لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ”
Perintah agar penyembelihan dilakukan dengan menyebut nama Allah sebagai bentuk penghambaan dan pengakuan bahwa seluruh rezeki berasal dari-Nya.
2. Berserah diri kepada Allah
“فَلَهُ أَسْلِمُوا”
Perintah untuk tunduk dan menyerahkan diri secara total kepada Allah.
3. Meneguhkan tauhid
“فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ”
Bahwa ibadah, termasuk kurban, hanya ditujukan kepada Allah semata dan tidak boleh dipersembahkan kepada selain-Nya.
Apakah ada asbabun nuzul ayat ini?
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa QS. Al-Hajj ayat 34 tidak memiliki asbabun nuzul khusus yang shahih dan spesifik dalam riwayat terkenal. Ayat ini lebih dipahami sebagai penjelasan umum tentang syariat kurban yang berlaku pada umat-umat terdahulu hingga umat Nabi Muhammad ﷺ.
Dalam beberapa kitab tafsir disebutkan bahwa ayat ini turun untuk meluruskan pemahaman masyarakat Arab yang ketika itu telah mencampur praktik penyembelihan dengan unsur syirik dan persembahan kepada selain Allah. Maka Al-Qur’an menegaskan bahwa tujuan penyembelihan adalah menyebut nama Allah semata.
Penjelasan menurut tafsir yang terpercaya
Beberapa tafsir mu’tabar menjelaskan ayat ini sebagai berikut:
1. Tafsir Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberitahukan bahwa setiap umat memiliki tata cara ibadah penyembelihan yang ditetapkan Allah. Tujuannya bukan sekadar penyembelihan, tetapi agar nama Allah diingat dan disebut saat menerima nikmat rezeki dari-Nya.
Beliau juga menegaskan bahwa syariat para nabi pada dasarnya memiliki satu tujuan: mentauhidkan Allah.
2. Tafsir Tafsir Al-Muyassar
Allah menjadikan bagi setiap umat ibadah kurban agar mereka mengingat Allah ketika menyembelih hewan yang diberikan-Nya. Kemudian Allah menegaskan bahwa Tuhan yang disembah hanyalah satu, sehingga ibadah harus murni ditujukan kepada-Nya.
3. Tafsir Tafsir Al-Qurthubi
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kata mansakan mengandung makna tempat atau tata cara ibadah tertentu. Beliau juga menjelaskan bahwa penyebutan nama Allah ketika menyembelih menjadi pembeda antara penyembelihan yang syar’i dan penyembelihan untuk selain Allah.
Faedah dan manfaat yang dapat diambil
1. Kurban adalah syariat para nabi dan umat terdahulu
Ibadah kurban bukan tradisi budaya, tetapi bagian dari ajaran yang telah Allah tetapkan sejak zaman dahulu.
2. Menguatkan tauhid
Kurban mendidik manusia agar tidak menggantungkan pengagungan kepada makhluk. Semua ibadah hanya ditujukan kepada Allah.
3. Menumbuhkan rasa syukur
Hewan ternak merupakan nikmat Allah. Dengan berkurban, seorang muslim belajar bahwa rezeki bukan hasil kemampuan dirinya semata.
4. Melatih keikhlasan dan pengorbanan
Seseorang mengeluarkan harta yang dicintainya demi mendekatkan diri kepada Allah.
5. Menumbuhkan kepedulian sosial
Daging kurban dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan orang yang membutuhkan sehingga menghadirkan kebahagiaan dan mempererat ukhuwah.
6. Mengajarkan ketundukan total kepada Allah
Perintah:
فَلَهُ أَسْلِمُوا
“Maka berserah dirilah kamu kepada-Nya”
menunjukkan bahwa hakikat kurban bukanlah hewan yang disembelih, tetapi hati yang tunduk kepada Allah.
Sebagai penutup, QS. Al-Hajj ayat 34 mengajarkan bahwa kurban bukan sekadar ritual tahunan. Kurban adalah madrasah keimanan yang mendidik seorang muslim untuk bersyukur, berkorban, mengikhlaskan, dan memurnikan tauhid kepada Allah. Bahkan puncak dari ibadah kurban bukan terletak pada darah dan dagingnya, tetapi pada ketakwaan yang tumbuh di dalam hati.