Dua puluh tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Ada banyak langkah, perjuangan, pengorbanan, dan doa yang mengiringi perjalanan sebuah lembaga hingga mampu bertahan dan terus bertumbuh. Milad ke-20 BMT PAS menjadi momentum istimewa yang bukan sekadar peringatan bertambahnya usia, melainkan juga wujud rasa syukur atas perjalanan panjang dalam melayani dan membersamai para anggota. Bertempat di Balai Desa Patalan, kegiatan ini berlangsung meriah dan penuh makna dengan dihadiri lebih dari 350 peserta yang terdiri dari anggota BMT PAS dan masyarakat Desa Patalan.
Sejak pagi hari, suasana kebersamaan telah terasa. Pukul 08.00–08.30 para peserta mulai berdatangan untuk melakukan presensi sekaligus menukarkan kupon snack makanan. Wajah-wajah ceria tampak menghiasi area kegiatan. Bukan sekadar datang menghadiri acara, tetapi juga merasakan hangatnya silaturahmi yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Memasuki pukul 08.30–08.45, acara dibuka secara resmi yang dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Pengurus BMT PAS serta Lurah Desa Patalan. Sambutan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah lembaga tidak pernah berdiri sendiri. Ada dukungan anggota, masyarakat, pengurus, dan berbagai pihak yang selama ini berjalan bersama. BMT PAS tumbuh bukan hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi juga menjadi rumah pemberdayaan bagi masyarakat.
Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih khusyuk melalui pembacaan Dzikir Al-Matsurat Pagi. Kalimat-kalimat dzikir yang dilantunkan bersama menghadirkan ketenangan dan mengingatkan bahwa setiap langkah kehidupan memerlukan hubungan yang kuat dengan Allah SWT. Kemudian suasana kembali semarak saat pembagian door prize hasil kerja sama dengan BSI Kancab Bulaksumur Yogyakarta. Antusiasme peserta begitu terasa ketika nama-nama pemenang diumumkan satu per satu.
Puncak acara diisi dengan pengajian oleh Ust. Drs. H. Thoyib Hidayat. Dalam penyampaian yang ringan namun sarat makna, beliau menyampaikan bahwa bekal hidup dapat diringkas dalam satu kata sederhana, yaitu DUIT. Menariknya, DUIT yang dimaksud bukan semata-mata uang, tetapi sebuah filosofi kehidupan.
D adalah Doa dan Dzikir. Kehidupan tidak hanya diisi dengan usaha lahiriah. Manusia memiliki keterbatasan, sehingga doa menjadi penghubung antara kelemahan manusia dan pertolongan Allah. Dzikir juga menjaga hati agar tetap hidup dan tenang. Kesibukan mencari nafkah sering kali membuat manusia lupa bahwa sumber rezeki sejatinya berasal dari Allah SWT.
U adalah Usaha dan Ulet. Kesuksesan tidak hadir dalam semalam. Dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh serta keuletan dalam menghadapi tantangan. Orang yang mudah menyerah akan sulit mencapai hasil terbaik. Keuletan membuat seseorang terus belajar, memperbaiki diri, dan tidak berhenti meski menghadapi berbagai hambatan.
I adalah Ikhtiar dan Ikhlas. Ikhtiar mengajarkan manusia untuk bergerak dan berusaha secara maksimal. Namun setelah usaha dilakukan, keikhlasan menjadi kunci agar hati tidak dipenuhi rasa kecewa ataupun kesombongan. Ikhlas menjadikan seseorang bekerja bukan hanya demi hasil, tetapi juga demi keberkahan.
T adalah Tawakkal. Setelah doa dipanjatkan, usaha dilakukan, dan ikhtiar dijalankan dengan ikhlas, maka langkah terakhir adalah berserah diri kepada Allah. Tawakkal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil terbaik kepada Sang Pencipta dengan penuh keyakinan.
Materi sederhana tersebut ternyata begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit peserta yang mengangguk-anggukkan kepala karena merasa mendapatkan pelajaran yang mudah dipahami sekaligus mengena di hati.
Keceriaan acara tidak berhenti setelah pengajian selesai. Ustadz juga membagikan bonus hadiah kepada peserta yang mampu menjawab pertanyaan dengan tepat. Suasana menjadi semakin hidup dengan tawa, semangat, dan antusiasme peserta yang ingin mencoba menjawab.
Setelah rangkaian pengajian berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan bazar sembako murah. Setiap peserta mendapatkan kupon diskon sembako senilai Rp15.000 dan kupon snack sebesar Rp10.000. Program ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian dan pemberdayaan anggota. Menariknya, kegiatan ini benar-benar mengusung konsep dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Pedagang yang berpartisipasi merupakan anggota BMT PAS, sedangkan pembeli sebagian besar juga anggota BMT PAS serta masyarakat sekitar.
Milad ke-20 ini bukan hanya menjadi perayaan usia, tetapi juga bukti bahwa BMT PAS hadir sebagai keluarga besar yang tumbuh bersama masyarakat. Ketika ekonomi bergerak melalui pemberdayaan anggota dan nilai-nilai spiritual diperkuat melalui pengajian, maka yang terbangun bukan sekadar transaksi, tetapi juga kebersamaan dan keberkahan. Dua puluh tahun telah dilalui, dan semangat untuk terus memberi manfaat tampaknya baru saja dimulai.