Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “mengangkat derajat” adalah meninggikan kedudukan seseorang di sisi Allah karena keimanan dan ilmunya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memuji orang-orang berilmu dan mengabarkan bahwa mereka memiliki keutamaan di atas selain mereka. Sedangkan Al-Qurthubi menerangkan bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang bermanfaat, yang mengantarkan kepada ketaatan dan pengenalan terhadap Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11)
Ayat ini merupakan salah satu dalil paling agung tentang kemuliaan iman dan ilmu. Menariknya, Allah tidak hanya menyebut orang berilmu, tetapi mendahuluinya dengan menyebut orang-orang yang beriman. Ini menunjukkan bahwa ilmu yang paling bernilai adalah ilmu yang dibangun di atas keimanan dan mengantarkan pemiliknya semakin dekat kepada Allah. Ilmu tanpa iman dapat menjadi sebab kesombongan, sedangkan iman yang dibimbing oleh ilmu akan melahirkan ketakwaan, kebijaksanaan, dan amal saleh.
Lalu, apakah pengangkatan derajat ini terjadi di dunia atau baru diberikan di akhirat? Jawabannya adalah keduanya. Di dunia, Allah mengangkat derajat orang beriman dan berilmu dengan memberikan kemuliaan, kewibawaan, penghormatan, serta pengaruh yang baik di tengah manusia. Orang-orang berilmu menjadi rujukan dalam berbagai persoalan, nasihat mereka didengar, dan keberadaan mereka membawa manfaat bagi masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa para ulama tetap dikenang berabad-abad setelah wafatnya. Nama-nama seperti Imam Al-Bukhari, Imam An-Nawawi, dan Ibnu Taimiyah terus disebut hingga hari ini karena ilmu yang mereka wariskan.
Namun, kemuliaan terbesar bukanlah penghormatan manusia, melainkan kedudukan tinggi di akhirat. Allah berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah membedakan kedudukan orang berilmu dengan yang tidak berilmu. Perbedaan tersebut mencapai puncaknya di akhirat, ketika setiap orang memperoleh balasan sesuai iman, ilmu, dan amalnya.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa pemahaman agama adalah tanda kebaikan yang Allah kehendaki bagi seorang hamba. Dengan ilmu itulah seseorang dapat beribadah dengan benar dan berjalan di atas petunjuk.
Lalu bagaimana cara meraih derajat yang tinggi tersebut? Pertama, memperkuat iman melalui ibadah, dzikir, dan ketaatan kepada Allah. Kedua, menuntut ilmu secara sungguh-sungguh, terutama ilmu yang mendekatkan diri kepada-Nya. Ketiga, mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Sebab ilmu yang tidak diamalkan tidak akan memberikan kemuliaan yang sempurna. Keempat, mengajarkan ilmu kepada orang lain dan menyebarkan manfaat kepada masyarakat.
Pada akhirnya, ayat ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tidak diukur oleh harta, jabatan, atau keturunan, tetapi oleh iman dan ilmu. Semakin kuat iman seseorang dan semakin bermanfaat ilmunya, semakin tinggi pula derajatnya di sisi Allah. Kemuliaan itu mulai tampak sejak di dunia dalam bentuk keberkahan dan manfaat, lalu mencapai kesempurnaannya di akhirat dalam bentuk kedudukan yang tinggi di surga. Karena itu, seorang muslim hendaknya menjadikan iman dan ilmu sebagai dua bekal utama sepanjang hidupnya, sebab keduanya adalah jalan menuju kemuliaan yang tidak akan pernah sirna.