www.bmtpas.com Dalam kehidupan, manusia sering berhadapan dengan ketidakpastian. Seorang pedagang tidak selalu mengetahui berapa banyak barang yang akan terjual. Seorang petani tidak dapat memastikan hasil panennya. Seorang pekerja tidak selalu mengetahui bagaimana masa depan pekerjaannya. Bahkan seseorang yang telah merencanakan segala sesuatu dengan matang tetap tidak mampu mengendalikan seluruh hasil yang akan terjadi.
Di tengah ketidakpastian itulah Islam mengajarkan tawakkal. Tawakkal memberikan keseimbangan antara usaha dan kepasrahan, antara perencanaan dan keyakinan, serta antara kerja keras dan ketenangan hati. Seorang Muslim diperintahkan untuk berusaha, tetapi tidak boleh menggantungkan seluruh hatinya kepada usaha. Ia harus menyandarkan hati kepada Allah سبحانه وتعالى, karena Allah-lah yang menciptakan sebab sekaligus menentukan hasil.
Apa Itu Tawakkal?
Secara bahasa, tawakkal berasal dari kata Arab tawakkala–yatawakkalu–tawakkulan, yang bermakna bersandar, mempercayakan urusan, menyerahkan, dan menggantungkan diri kepada pihak yang dipercaya.
Adapun secara istilah, tawakkal adalah bersandarnya hati kepada Allah dalam memperoleh manfaat dan menolak mudarat, dengan keyakinan penuh bahwa Allah adalah Pengatur segala sesuatu, disertai usaha menggunakan sebab-sebab yang dibenarkan oleh syariat.
Pengertian ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak sama dengan pasrah tanpa usaha. Tawakkal juga bukan sikap menyerah terhadap keadaan. Tawakkal adalah keyakinan hati kepada Allah yang mendorong seseorang untuk melakukan ikhtiar secara benar.
Karena itu, tawakkal memiliki dua unsur penting. Pertama, usaha lahiriah. Kedua, ketergantungan hati kepada Allah. Usaha tanpa tawakkal dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, pengakuan tawakkal tanpa usaha dapat berubah menjadi kemalasan.
Hadis Burung: Gambaran Tawakkal yang Sebenarnya
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; pagi hari ia pergi dalam keadaan lapar dan sore hari pulang dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi no. 2344)
Hadis ini diriwayatkan melalui sahabat Umar bin al-Khattab رضي الله عنه. Imam at-Tirmidzi menilai hadis ini sebagai hasan sahih.
Perumpamaan burung dalam hadis ini sangat indah. Burung tidak mengetahui di mana ia akan mendapatkan makanan. Ia tidak memiliki gudang persediaan, rekening bank, atau kepastian mengenai rezeki yang akan diperolehnya. Namun, setiap pagi ia keluar dari sarangnya. Ia terbang, mencari, dan menggunakan kemampuan yang Allah berikan kepadanya.
Pada sore hari, burung tersebut kembali dalam keadaan kenyang.
Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa burung mendapatkan rezeki dengan tetap berada di sarangnya. Burung justru keluar dan bergerak. Inilah salah satu kunci memahami tawakkal dengan benar.
Tawakkal bukan berarti menunggu rezeki datang tanpa usaha. Tawakkal berarti bergerak mencari rezeki, sementara hati tetap yakin bahwa Allah-lah yang memberikan rezeki.
Tawakkal dalam Al-Qur’an: Usaha Dahulu, Berserah Diri Kemudian
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini memberikan susunan yang sangat jelas. Sebelum tawakkal, terdapat proses bermusyawarah, mempertimbangkan, mengambil keputusan, dan membulatkan tekad. Setelah itu, barulah seseorang bertawakkal kepada Allah.
Dengan demikian, seorang Muslim tidak boleh menggunakan tawakkal sebagai alasan untuk menghindari perencanaan. Seorang pedagang tetap perlu memahami pasar. Seorang petani perlu menyiapkan lahan dan bibit. Seorang pengusaha perlu menghitung modal dan risiko. Seorang anggota koperasi yang membutuhkan pembiayaan usaha juga perlu memiliki rencana penggunaan dana dan kemampuan pengembalian yang realistis.
Di sinilah tawakkal bertemu dengan ikhtiar yang sehat. Allah memerintahkan hati untuk bersandar kepada-Nya, tetapi manusia tetap diperintahkan untuk menempuh sebab.
Cara Bertawakkal yang Benar
1. Meyakini bahwa Allah adalah Pemberi Rezeki
Allah berfirman:
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
(QS. Hud: 6)
Ayat ini menanamkan keyakinan bahwa sumber rezeki yang sebenarnya adalah Allah. Pekerjaan, pelanggan, usaha, modal, jabatan, dan manusia hanyalah sarana.
Karena itu, seorang Muslim boleh bersyukur kepada orang yang membantu, tetapi hatinya tidak boleh menggantungkan rezeki kepada manusia.
2. Mengambil Sebab yang Halal
Tawakkal harus disertai usaha. Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan pentingnya mengambil sebab. Ketika seseorang bertanya tentang untanya, apakah ia harus mengikatnya lalu bertawakkal atau membiarkannya lalu bertawakkal, Nabi ﷺ bersabda:
“Ikatlah ia dan bertawakkallah.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menjadi prinsip penting. Mengikat unta adalah ikhtiar. Bertawakkal adalah sikap hati setelah melakukan ikhtiar.
Maka, seseorang yang ingin mengembangkan usaha perlu berusaha meningkatkan kualitas produk, mengelola keuangan, menjaga kepercayaan pelanggan, dan mencari solusi pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan.
3. Tidak Menggantungkan Hati kepada Sebab
Sebab tetaplah sebab. Ia tidak memiliki kekuatan secara mandiri.
Obat tidak menyembuhkan dengan sendirinya. Modal tidak otomatis menghasilkan keuntungan. Strategi bisnis tidak selalu menjamin keberhasilan. Semua itu hanya sarana yang dapat memberikan hasil apabila Allah menghendakinya.
Karena itu, orang yang bertawakkal menggunakan sebab, tetapi hatinya tetap kepada Allah.
4. Berdoa dan Memohon Pertolongan kepada Allah
Allah berfirman:
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 5)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak hanya berusaha, tetapi juga memohon pertolongan kepada Allah. Doa merupakan bentuk pengakuan bahwa kemampuan manusia terbatas.
5. Menerima Hasil Setelah Berusaha
Tawakkal juga berarti menerima keputusan Allah setelah seseorang melakukan usaha terbaiknya. Hasil tidak selalu sesuai dengan keinginan. Namun, seorang mukmin yakin bahwa keputusan Allah tidak pernah sia-sia.
Di sinilah tawakkal berhubungan erat dengan sabar, syukur, dan husnuzan kepada Allah. Seseorang bersabar ketika hasil belum sesuai harapan dan bersyukur ketika Allah memberikan keberhasilan.
Tawakkal dan Rezeki yang Berkah
Tawakkal juga perlu dipahami bersama konsep keberkahan rezeki. Rezeki tidak hanya berarti banyaknya uang. Rezeki juga mencakup kesehatan, keluarga, ilmu, kesempatan berbuat baik, ketenangan hati, dan kemampuan menggunakan harta di jalan yang diridhai Allah.
Dalam salah satu materi hikmah di BMT PAS tentang silaturahmi dan rezeki dijelaskan bahwa rezeki tidak hanya berkaitan dengan kerja keras, tetapi juga dengan ketaatan kepada Allah dan hubungan baik dengan sesama. Silaturahmi dapat menjadi sebab terbukanya berbagai pintu kebaikan, termasuk kepercayaan, kerja sama, pertolongan, dan peluang usaha.
Hal ini memperluas pemahaman kita tentang tawakkal. Seorang yang bertawakkal bukan hanya bekerja keras, tetapi juga menjaga hubungan dengan Allah dan manusia. Ia tidak mencari rezeki dengan cara yang merusak kepercayaan, menipu, atau merugikan orang lain.
Tawakkal juga berkaitan erat dengan menanam kebaikan dan memanen keberkahan. Dalam kehidupan, seseorang mungkin tidak langsung melihat hasil dari kebaikan yang dilakukan. Namun, seorang yang bertawakkal tetap yakin bahwa tidak ada amal baik yang sia-sia di sisi Allah. Hal ini sejalan dengan tema hikmah yang dikembangkan dalam kanal Hikmah BMT PAS.
Tawakkal dalam Kehidupan Ekonomi dan Usaha
Bagi pelaku usaha, tawakkal memiliki makna yang sangat praktis. Tawakkal bukan berarti menjalankan usaha tanpa perhitungan. Sebaliknya, tawakkal mendorong seseorang untuk bekerja secara profesional karena usaha adalah bagian dari ikhtiar.
Seorang pedagang perlu mengetahui kebutuhan pasar. Seorang peternak perlu merawat ternaknya. Seorang petani perlu memilih bibit yang baik. Seorang pengusaha perlu menghitung modal dan risiko. Namun, setelah semua usaha dilakukan, ia tetap menyadari bahwa keberhasilan tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Dalam konteks pemberdayaan ekonomi, Pembiayaan Produktif Syariah BMT PAS menjadi salah satu contoh bahwa ikhtiar ekonomi dapat dilakukan melalui perencanaan usaha dan skema yang sesuai dengan prinsip syariah. Pembiayaan produktif diarahkan untuk kebutuhan investasi dan pengembangan usaha, seperti modal usaha, peternakan, pertanian, dan kebutuhan produktif lainnya.
Namun, tawakkal tidak boleh disalahpahami sebagai alasan untuk mengambil pembiayaan tanpa perhitungan. Justru, tawakkal harus mendorong seseorang untuk menggunakan dana secara amanah, membuat perencanaan yang baik, serta menghitung kemampuan usaha dalam memenuhi kewajiban.
Tawakkal membutuhkan keberanian untuk memulai, tetapi juga kebijaksanaan untuk menghitung risiko.
Umar bin al-Khattab: Sahabat Perawi Hadis
Hadis tentang tawakkal ini diriwayatkan melalui Umar bin al-Khattab رضي الله عنه.
Beliau adalah khalifah kedua dalam Islam setelah Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه. Umar dikenal sebagai sahabat yang kuat, tegas, berani, cerdas, dan sangat memperhatikan keadilan.
Keislaman Umar menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah dakwah. Setelah masuk Islam, beliau menjadi salah satu pembela utama Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin.
Kehidupan Umar juga memberikan pelajaran penting tentang tawakkal. Beliau bukan pribadi yang pasif. Sebaliknya, beliau dikenal sebagai pemimpin yang aktif, bekerja keras, melakukan perencanaan, mengatur pemerintahan, dan bertanggung jawab terhadap rakyat.
Dengan demikian, hadis tentang tawakkal yang diriwayatkan oleh Umar semakin menunjukkan bahwa tawakkal bukanlah sikap lemah dan pasif. Tawakkal justru dapat melahirkan keberanian, keteguhan, dan tanggung jawab.
10 Pelajaran dari Hadis tentang Tawakkal
Pertama, Allah adalah satu-satunya Pemberi Rezeki.
Manusia berusaha, tetapi Allah yang menentukan hasil.
Kedua, tawakkal adalah ibadah hati.
Ia merupakan bentuk ketergantungan seorang hamba kepada Allah.
Ketiga, tawakkal tidak berarti meninggalkan usaha.
Burung tetap keluar dari sarangnya untuk mencari makanan.
Keempat, rezeki harus dicari melalui jalan yang halal.
Kepercayaan kepada Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk menempuh cara yang haram.
Kelima, seorang Muslim harus berani memulai.
Burung keluar pada pagi hari tanpa mengetahui secara pasti di mana makanan akan ditemukan.
Keenam, perencanaan dan tawakkal tidak bertentangan.
Islam memerintahkan manusia untuk mengambil sebab dan kemudian berserah diri kepada Allah.
Ketujuh, hati tidak boleh bergantung kepada sebab.
Sebab hanyalah sarana. Allah-lah yang menentukan hasil.
Kedelapan, tawakkal melahirkan ketenangan.
Orang yang bersandar kepada Allah tidak mudah hancur ketika menghadapi kegagalan.
Kesembilan, tawakkal harus disertai kesabaran dan syukur.
Ketika hasil belum sesuai harapan, ia bersabar. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur.
Kesepuluh, rezeki bukan hanya tentang jumlah, tetapi juga keberkahan.
Rezeki yang sedikit tetapi halal dan menenangkan dapat lebih baik daripada harta yang banyak tetapi menghilangkan ketenteraman.
Penutup: Tawakkal adalah Hati yang Bersandar dan Kaki yang Melangkah
Tawakkal mengajarkan keseimbangan yang indah. Hati bersandar kepada Allah, tetapi kaki tetap melangkah. Tangan tetap bekerja, tetapi hati tidak menyembah hasil. Pikiran tetap merencanakan, tetapi jiwa tetap menyerahkan keputusan kepada Allah.
Burung dalam hadis Rasulullah ﷺ tidak tinggal diam di sarangnya. Ia keluar dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. Inilah gambaran tawakkal yang sesungguhnya.
Seorang Muslim boleh memiliki target, membangun usaha, mengembangkan modal, menabung, memperbaiki keterampilan, dan merencanakan masa depan. Namun, semua usaha itu harus disertai kesadaran bahwa rezeki, keberhasilan, dan keberkahan pada akhirnya berada di tangan Allah.
Sebagaimana pesan berbagai materi hikmah di BMT PAS, kehidupan yang baik tidak hanya dibangun dengan keberhasilan material, tetapi juga dengan hati yang bersih, hubungan yang baik, kebaikan yang terus ditanam, dan keyakinan kepada Allah. Dengan demikian, tawakkal bukanlah alasan untuk berhenti berusaha.
Tawakkal adalah terus berusaha karena percaya kepada Allah, dan tetap tenang karena yakin bahwa hasil akhirnya berada dalam ilmu dan ketetapan-Nya.