www.bmtpas.com Hari tua sering terasa masih jauh. Ketika usia masih produktif dan kebutuhan keluarga terus bertambah, memikirkan pensiun kadang dianggap belum penting. Penghasilan Rp3–4 juta per bulan pun sering kali sudah habis untuk kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, cicilan, transportasi, dan kebutuhan lainnya. Akibatnya, dana untuk hari tua menjadi sesuatu yang terus ditunda. Padahal, semakin kecil penghasilan, justru semakin penting menyiapkannya sejak dini.
Dana hari tua bukan semata-mata tentang memiliki uang dalam jumlah besar ketika pensiun. Lebih dari itu, dana tersebut merupakan bentuk ikhtiar agar seseorang tetap memiliki kemandirian ketika kemampuan bekerja mulai berkurang. Jangan sampai setelah puluhan tahun bekerja, seseorang justru memasuki masa tua tanpa persiapan dan akhirnya harus bergantung sepenuhnya kepada anak atau keluarga.
Bagi masyarakat berpenghasilan Rp3–4 juta per bulan, persiapan ini tidak harus dimulai dengan jumlah besar. Yang terpenting adalah konsistensi. Menyisihkan Rp100 ribu, Rp200 ribu, atau Rp300 ribu setiap bulan jauh lebih baik daripada memiliki rencana besar tetapi tidak pernah dimulai.
Mulai dari Menghitung Kemampuan
Langkah pertama adalah mengetahui kondisi keuangan sebenarnya. Catat seluruh pendapatan dan pengeluaran selama satu bulan. Bedakan antara kebutuhan pokok dan keinginan. Dari sana akan terlihat berapa uang yang sebenarnya dapat disisihkan.
Misalnya penghasilan Rp3,5 juta. Setelah kebutuhan pokok terpenuhi, seseorang dapat menetapkan target awal dana hari tua sebesar Rp200–350 ribu per bulan. Tidak perlu memaksakan angka yang terlalu besar hingga kebutuhan keluarga terganggu.
Jadikan Dana Hari Tua sebagai Prioritas
Langkah kedua adalah mengubah cara berpikir. Jangan menabung untuk hari tua dari uang yang tersisa. Sebaliknya, sisihkan terlebih dahulu ketika menerima penghasilan.
Begitu gaji diterima, langsung pisahkan dana hari tua. Misalnya Rp300 ribu. Uang tersebut dianggap bukan lagi sebagai uang yang boleh digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Dengan cara ini, menyiapkan hari tua menjadi kebiasaan, bukan keputusan yang harus dibuat berulang kali setiap bulan.
Buat Tempat Penyimpanan yang Terpisah
Salah satu penyebab tabungan mudah habis adalah karena bercampur dengan uang belanja. Dana hari tua sebaiknya ditempatkan pada rekening atau instrumen yang terpisah dari rekening transaksi sehari-hari.
Bahkan, jika memungkinkan, jangan menggunakan rekening tersebut untuk kartu ATM atau transaksi harian. Semakin sulit uang itu diambil secara spontan, semakin kecil kemungkinan digunakan untuk keinginan yang sebenarnya tidak mendesak.
Dalam konteks keuangan syariah, dana jangka panjang dapat ditempatkan pada instrumen yang sesuai dengan prinsip syariah dan dipahami karakteristik serta risikonya, seperti tabungan atau deposito syariah, emas, maupun investasi syariah lainnya.
Buat Aturan: Dana Hari Tua Bukan Dana Darurat
Ini bagian yang sangat penting. Jangan mencampurkan dana hari tua dengan dana darurat.
Dana darurat digunakan ketika terjadi keadaan tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, kebutuhan kesehatan, atau keperluan mendesak lainnya. Sementara dana hari tua memiliki tujuan yang lebih panjang.
Jika seluruh tabungan hanya berada dalam satu rekening, ketika ada keinginan membeli kendaraan, memperbaiki rumah, berlibur, atau membeli barang tertentu, dana hari tua sangat mudah ikut terpakai.
Karena itu, buat minimal tiga pos: uang kebutuhan bulanan, dana darurat, dan dana hari tua.
Naikkan Setoran Ketika Penghasilan Bertambah
Tidak perlu langsung menetapkan target yang berat. Mulailah dari kemampuan saat ini. Setelah penghasilan meningkat, naikkan pula setoran dana hari tua.
Misalnya tahun pertama Rp200 ribu per bulan. Ketika penghasilan bertambah, naik menjadi Rp300 ribu. Kemudian Rp400 ribu atau Rp500 ribu.
Jika Rp300 ribu disisihkan setiap bulan, setahun terkumpul Rp3,6 juta. Dalam sepuluh tahun, setoran pokoknya mencapai Rp36 juta, belum memperhitungkan hasil pengembangan. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa waktu dan konsistensi memiliki kekuatan yang besar.
Berikan Nama dan Tujuan yang Jelas
Agar tidak mudah tergoda, berikan identitas yang kuat pada dana tersebut. Jangan hanya menyebutnya “tabungan”. Gunakan nama seperti Dana Hari Tua, Dana Pensiun, atau Bekal Masa Tua.
Tuliskan tujuan yang ingin dicapai: “Dana ini bukan untuk membeli barang konsumtif. Dana ini untuk menjaga kehidupan saya ketika sudah tidak mampu bekerja seperti sekarang.”
Tujuan yang jelas akan membuat seseorang lebih kuat menahan keinginan mengambilnya.
Evaluasi, Jangan Mengambil
Lakukan evaluasi setiap enam bulan atau setahun. Periksa apakah setoran sudah rutin, apakah jumlahnya masih sesuai kemampuan, dan apakah dana berkembang sesuai tujuan.
Namun, evaluasi bukan berarti mengambil dana tersebut ketika ada keinginan baru. Jika membutuhkan uang untuk kebutuhan lain, carilah sumber dari pos yang memang diperuntukkan untuk kebutuhan tersebut.
Pada akhirnya, mempersiapkan hari tua bukan tentang siapa yang mampu menyisihkan uang paling banyak. Ini tentang siapa yang mau memulai lebih awal, disiplin menjaga peruntukannya, dan konsisten menambahnya.
Bagi keluarga berpenghasilan Rp3–4 juta, mungkin dana hari tua tidak bisa terkumpul puluhan atau ratusan juta dalam waktu singkat. Tetapi dengan menyisihkan sedikit demi sedikit, menjaga dana tetap terpisah, membangun dana darurat, menghindari utang konsumtif, dan meningkatkan setoran seiring kenaikan penghasilan, masa depan dapat dipersiapkan dengan lebih baik.
Hari tua tidak bisa dihentikan. Tetapi ketidakpastian finansial di hari tua bisa dipersiapkan mulai hari ini.