www.bmtpas.com (Hikmah) Ada saatnya seseorang telah berusaha sekuat tenaga, tetapi persoalan belum juga menemukan jalan keluar. Ia telah berpikir, bekerja, bermusyawarah, dan mencoba berbagai cara. Namun, pada akhirnya manusia menyadari bahwa kemampuan dirinya memiliki batas. Pada saat seperti itulah seorang mukmin perlu kembali mengingat satu hal penting: pertolongan sejati berasal dari Allah ﷻ.
Al-Qur’an memberikan petunjuk yang sangat jelas tentang bagaimana seorang mukmin menghadapi kesulitan. Allah ﷻ berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
(QS. Al-Baqarah: 45)
Ayat ini mengajarkan sebuah konsep penting dalam kehidupan seorang mukmin, yaitu isti‘ānah, memohon pertolongan kepada Allah.
Memahami Makna Isti‘ānah
Kata isti‘ānah (الاستعانة) berasal dari kata ‘auna (عَوْن) yang bermakna pertolongan atau bantuan. Isti‘ānah berarti meminta pertolongan agar seseorang mendapatkan kemampuan untuk menghadapi atau menyelesaikan sesuatu yang sulit.
Karena itu, ketika Allah berfirman وَاسْتَعِينُوا (wasta‘īnū), Allah tidak sekadar memerintahkan manusia untuk bekerja lebih keras. Allah mengajarkan agar dalam menghadapi kesulitan, seorang hamba memohon pertolongan kepada-Nya.
Isti‘ānah merupakan sikap hati yang mengakui keterbatasan diri sekaligus meyakini kesempurnaan kekuasaan Allah. Manusia boleh memiliki ilmu, pengalaman, harta, jabatan, dan berbagai kemampuan, tetapi semua itu pada hakikatnya adalah karunia Allah. Sebab-sebab tersebut tidak boleh membuat hati melupakan Sang Pemberi sebab.
Isti‘ānah dan Tauhid
Makna isti‘ānah sangat erat kaitannya dengan tauhid. Dalam QS. Al-Fatihah ayat 5, setiap muslim membaca:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Ayat ini menggabungkan dua perkara besar: ibadah dan isti‘ānah. Kita hanya menyembah Allah dan hanya kepada-Nya kita menggantungkan pertolongan yang hakiki.
Namun, meminta bantuan kepada manusia dalam perkara yang memang berada dalam kemampuan mereka tidak bertentangan dengan prinsip ini. Kita dapat meminta bantuan dokter untuk pengobatan, guru untuk mendapatkan ilmu, atau orang lain untuk membantu pekerjaan. Mereka hanyalah sebab, sedangkan Allah adalah Zat yang menciptakan sebab dan menentukan hasilnya.
Dengan demikian, isti‘ānah mengajarkan keseimbangan: tangan bekerja, tetapi hati tetap bergantung kepada Allah.
Mengapa Sabar dan Salat?
Allah kemudian menyebut dua sarana yang sangat penting:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mintalah pertolongan dengan sabar dan salat.”
Sabar diperlukan karena perjalanan hidup tidak selalu sesuai dengan keinginan. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, tetapi tetap teguh dalam ketaatan, menahan diri dari kemaksiatan, dan tidak kehilangan kendali ketika menghadapi ujian.
Sementara itu, salat menjadi tempat seorang hamba kembali kepada Allah. Ketika hati gelisah, ia bersujud. Ketika pikiran penuh persoalan, ia menghadap Rabb-nya. Salat mengingatkan bahwa persoalan yang terasa besar bagi manusia tetap berada di bawah kekuasaan Allah.
Karena itu, sabar menjaga langkah, sedangkan salat menguatkan hati.
Isti‘ānah, Ikhtiar, dan Tawakal
Memohon pertolongan kepada Allah bukan berarti meninggalkan usaha. Seorang mukmin tetap diperintahkan mengambil sebab.
Hubungan ketiganya dapat dipahami secara sederhana:
Isti‘ānah → memohon pertolongan Allah.
Ikhtiar → menempuh sebab yang benar.
Tawakal → menyerahkan hasil kepada Allah.
Ketiganya bukan sesuatu yang bertentangan. Seorang pedagang tetap berusaha mengembangkan usahanya. Seorang pelajar tetap belajar. Orang yang sedang menghadapi masalah tetap mencari solusi. Tetapi setelah melakukan usaha, ia tidak menggantungkan hatinya kepada usaha tersebut. Ia menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Inilah tawakal yang benar: berusaha dengan sungguh-sungguh tanpa menyembah sebab, lalu menyerahkan hasil kepada Allah.
Mengapa Isti‘ānah Terasa Berat?
Allah berfirman:
وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
Sabar dan salat dapat terasa berat ketika hati terlalu sibuk bergantung kepada dunia dan kemampuan diri sendiri. Sebaliknya, bagi hati yang mengenal Allah, keduanya menjadi sumber kekuatan.
Orang yang khusyuk memahami bahwa dirinya adalah hamba dan Allah adalah Rabb-nya. Ia tidak selalu memahami mengapa sebuah ujian datang, tetapi ia percaya bahwa Allah Maha Mengetahui dan tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya.
Bagaimana Mempraktikkan Isti‘ānah?
Isti‘ānah dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika menghadapi persoalan, jangan terburu-buru dikuasai kepanikan. Berhenti sejenak, tenangkan hati, berdoa kepada Allah, tunaikan salat, kemudian pikirkan langkah nyata yang dapat dilakukan.
Jika masalah belum selesai, teruslah bersabar. Jika hasil belum sesuai harapan, evaluasi ikhtiar. Jika jalan terasa buntu, jangan berhenti mengetuk pintu pertolongan Allah.
Sebab pertolongan Allah tidak selalu hadir dalam bentuk masalah yang langsung hilang. Terkadang pertolongan itu berupa hati yang dikuatkan, kesabaran yang ditambahkan, pikiran yang dijernihkan, seseorang yang dipertemukan, atau jalan keluar yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Penutup: Jangan Berjalan Sendirian
QS. Al-Baqarah ayat 45 mengajarkan bahwa menghadapi kehidupan tidak cukup hanya dengan mengandalkan kekuatan diri. Kita membutuhkan pertolongan Allah.
Maka, ketika kehidupan terasa berat, jangan hanya bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Tanyakan pula, “Kepada siapa saya meminta pertolongan?”
Jawabannya adalah Allah.
Perkuat isti‘ānah, teguhkan sabar, jaga salat, lakukan ikhtiar, dan sempurnakan dengan tawakal. Sebab manusia memiliki kekuatan yang terbatas, sedangkan pertolongan Allah tidak pernah terbatas.
Ketika hati bersandar kepada Allah, masalah mungkin belum langsung berubah, tetapi kita mendapatkan kekuatan untuk menghadapinya. Dan terkadang, itulah pertolongan pertama yang paling kita butuhkan.