Dunia di Tangan, Akhirat di Hati: Pelajaran Berharga dari QS. Al-Qashash Ayat 77

www.bmtpas.com Ada orang yang bekerja keras mengejar kekayaan, tetapi lupa untuk apa kekayaan itu dikumpulkan. Ada pula yang begitu takut terhadap dunia hingga menganggap bahwa kesalehan berarti meninggalkan berbagai kenikmatan yang halal. Al-Qur’an memberikan jalan yang lebih seimbang: gunakan dunia untuk membangun kehidupan akhirat, tanpa melupakan bagian yang halal dari kehidupan dunia.

Prinsip tersebut terdapat dalam firman Allah Ta‘ala:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia; berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

(QS. Al-Qashash [28]: 77)

Nasihat untuk Qarun

Ayat ini berada dalam rangkaian kisah Qarun, seorang dari kaum Nabi Musa yang dianugerahi kekayaan sangat besar. Al-Qur’an menggambarkan bahwa kunci-kunci gudang hartanya saja sangat berat untuk dipikul oleh sejumlah orang yang kuat.

Namun kekayaan tersebut tidak membuat Qarun semakin bersyukur. Ia justru menyombongkan hartanya dan mengaitkan keberhasilannya dengan pengetahuan yang ada pada dirinya. Karena itu, kaumnya memberikan nasihat agar ia tidak terlena oleh kekayaan.

Nasihat tersebut sangat relevan hingga hari ini. Persoalan utama bukanlah berapa banyak harta yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang memperoleh, mengelola, dan menggunakan harta tersebut.

Gunakan Nikmat untuk Mencari Akhirat

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perintah “carilah negeri akhirat dengan apa yang telah Allah berikan kepadamu” berarti menggunakan nikmat Allah untuk memperoleh pahala di sisi-Nya. Harta dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui zakat, sedekah, membantu keluarga, memenuhi kebutuhan orang lain, dan berbagai amal kebajikan.

Dengan demikian, kekayaan bukan musuh kesalehan. Harta justru dapat menjadi kendaraan menuju akhirat apabila berada di tangan orang yang amanah.

Seorang pengusaha dapat menjadikan usahanya sebagai ibadah. Seorang pegawai dapat menjadikan pekerjaannya sebagai amal. Orang yang memiliki kemampuan dapat menggunakannya untuk membantu sesama. Yang menentukan bukan semata-mata jenis aktivitasnya, tetapi kehalalan cara, niat, dan manfaat yang dihasilkannya.

Apa Makna “Bagianmu di Dunia”?

Frasa وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا — “janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia” — memberikan keseimbangan yang penting.

Al-Muyassar menjelaskan bahwa manusia boleh mengambil bagian dunia berupa kenikmatan yang halal, tanpa menjadikannya sebagai tujuan utama. As-Sa‘di juga menekankan bahwa seseorang hendaknya menikmati apa yang Allah halalkan dengan cara yang tidak merusak agama dan kehidupan akhiratnya.

Karena itu, Islam tidak melarang seseorang memiliki rumah yang layak, makanan yang baik, pakaian yang pantas, kendaraan, usaha, atau kehidupan keluarga yang nyaman. Semua itu menjadi persoalan ketika kenikmatan dunia membuat seseorang lalai dari kewajiban, hidup berlebihan, atau memperoleh dan menggunakannya dengan cara yang haram.

Jadi, meninggalkan dunia bukan syarat menjadi saleh. Yang dituntut adalah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

Bersyukur dengan Berbuat Baik

Allah melanjutkan:

وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ

“Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”

Inilah konsekuensi dari nikmat. Ketika Allah memberikan rezeki, seseorang tidak cukup hanya mengucapkan alhamdulillah. Syukur juga harus terlihat dalam perbuatan.

Allah memberikan harta, maka gunakan sebagian untuk membantu. Allah memberikan ilmu, maka bagikan kepada orang lain. Allah memberikan kesehatan, maka manfaatkan untuk beribadah dan bekerja. Allah memberikan kedudukan, maka jalankan dengan amanah.

Dengan demikian, syukur bukan hanya ucapan, tetapi juga cara menggunakan nikmat.

Jangan Sampai Kekayaan Menjadi Sumber Kerusakan

Bagian terakhir ayat memberikan peringatan:

وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”

Menurut para mufasir, larangan tersebut mencakup berbagai bentuk kemaksiatan, kezaliman, kesombongan, dan tindakan yang membawa kerusakan.

Pesannya sangat aktual. Jangan mencari keuntungan dengan menipu. Jangan membangun keberhasilan dengan merugikan orang lain. Jangan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Jangan menjadikan harta sebagai alasan untuk merendahkan mereka yang kurang mampu.

Sebab, kekayaan yang tidak disertai amanah dapat berubah dari nikmat menjadi fitnah.

Menyatukan Dunia dan Akhirat

QS. Al-Qashash ayat 77 tidak mengajarkan kita untuk memilih dunia atau akhirat. Ayat ini mengajarkan bagaimana menjadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Bangun usaha dengan jujur. Rawat keluarga. Nikmati rezeki yang halal. Tingkatkan ilmu dan kemampuan. Tetapi jangan lupa berbagi, bersyukur, beribadah, dan menjaga amanah.

Pada akhirnya, manusia tidak dilarang memiliki dunia. Yang harus dihindari adalah ketika dunia memiliki hati kita.

Dunia di tangan tidak mengapa, selama akhirat tetap menjadi tujuan. Harta boleh banyak, selama syukur lebih banyak. Kekayaan boleh bertambah, selama manfaat yang diberikan juga bertambah.

Inilah keseimbangan yang diajarkan QS. Al-Qashash ayat 77: mencari akhirat tanpa meninggalkan dunia, menikmati dunia tanpa melupakan akhirat, serta menggunakan setiap nikmat Allah untuk menghadirkan kebaikan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *