www.bmtpas.com Ayat ini menegaskan perbandingan antara dunia yang bersifat sementara dengan akhirat yang abadi. Dunia disebut sebagai tempat lahwun wa la‘ib—sesuatu yang melalaikan dan hanya sebatas permainan—sedangkan akhirat dinamakan al-hayawān, yakni kehidupan yang sesungguhnya, penuh keberlangsungan tanpa akhir.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 64:
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya:
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
Penjelasan Ulama Tafsir
Para mufassir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dunia disebut permainan karena cepat berlalu dan sering melalaikan manusia dari tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah. Kenikmatan dunia hanya bersifat sementara, sedangkan kenikmatan akhirat kekal dan tidak berkurang. Al-Qurthubi menambahkan bahwa dunia ibarat sesuatu yang tampak menarik di awal namun berakhir dengan kefanaan, sementara akhirat merupakan realitas sejati yang tidak mengenal kematian.
Kata al-hayawān menunjukkan kehidupan yang sempurna dan terus berlangsung. Dengan istilah ini, Allah mengingatkan bahwa apa yang kita anggap “hidup sungguhan” di dunia justru hanyalah fase singkat menuju kehidupan hakiki di akhirat.
Asbabun Nuzul Ayat
Sebagian ulama menyebutkan bahwa ayat ini turun sebagai peringatan bagi kaum musyrikin Mekah yang terlalu larut dalam kesenangan dunia dan menolak kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW. Mereka merasa cukup dengan kehidupan dunia sehingga mengingkari kebangkitan dan hari pembalasan. Ayat ini hadir untuk menggugah kesadaran mereka bahwa apa yang mereka banggakan hanyalah kesenangan sesaat.
Mengapa Dunia Disebut Permainan?
Dunia bukan tercela secara mutlak, namun menjadi tercela ketika melalaikan manusia dari Allah dan akhirat. Harta, jabatan, hiburan, dan kesibukan dunia sering membuat manusia lupa tujuan hidupnya. Seperti permainan anak-anak yang menyenangkan namun segera ditinggalkan, demikian pula dunia—indah namun cepat sirna.
Sebaliknya, akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya karena di sanalah balasan amal diberikan secara sempurna, baik kenikmatan surga maupun azab neraka.
Tadabbur dan Implementasi dalam Kehidupan
Merenungi ayat ini seharusnya melahirkan sikap seimbang: memanfaatkan dunia tanpa terperdaya olehnya. Dunia dijadikan ladang amal, bukan tujuan akhir.
Beberapa tips implementasi nyata:
-
Meluruskan niat dalam setiap aktivitas duniawi, seperti bekerja untuk menafkahi keluarga sebagai ibadah.
-
Menyediakan waktu khusus untuk akhirat, dengan menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak dzikir.
-
Tidak berlebihan mengejar materi, tetapi cukup dan bersyukur atas rezeki Allah.
-
Memperbanyak amal sosial, seperti sedekah dan membantu sesama sebagai bekal akhirat.
-
Sering mengingat kematian, agar hati tidak terpaut berlebihan pada dunia.
Penutup
QS. Al-‘Ankabut ayat 64 mengajarkan perspektif hidup yang benar: dunia hanyalah persinggahan, akhirat adalah tujuan. Dengan memahami maknanya melalui tafsir para ulama dan mengamalkannya secara nyata, seorang Muslim akan hidup lebih tenang, terarah, dan penuh keberkahan. Dunia dijalani dengan sungguh-sungguh, namun hati tetap terikat pada kehidupan yang abadi di sisi Allah SWT.