Tawadhu’: Kunci Akhlak Mulia dalam Kehidupan Seorang Muslim

www.bmtpas.com Rendah hati merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam Islam. Di tengah kehidupan modern yang sering menonjolkan pencapaian, status, dan pengakuan, sikap rendah hati menjadi penyeimbang agar manusia tidak terjebak dalam kesombongan. Islam memandang rendah hati bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai tanda kedewasaan iman dan keluhuran akhlak.

Secara definisi, rendah hati adalah sikap tidak membanggakan diri, tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, serta mampu menempatkan diri secara proporsional. Orang yang rendah hati menyadari kelebihan yang dimilikinya, namun tidak menjadikannya alat untuk merendahkan orang lain. Ia juga menerima kekurangan diri dengan lapang dada dan terus berusaha memperbaikinya.

Dalam Islam, rendah hati (tawadhu’) bukan sekadar anjuran, melainkan perintah yang jelas. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…” (QS. Al-Furqan: 63).
Ayat ini menegaskan bahwa rendah hati merupakan ciri utama hamba Allah yang dicintai-Nya. Sikap ini mencerminkan kesadaran bahwa segala yang dimiliki manusia berasal dari Allah dan dapat diambil kembali kapan saja.

Selain itu, Allah juga memperingatkan agar manusia tidak bersikap sombong. Dalam QS. Luqman ayat 18 disebutkan:
“Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.”
Ayat ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan hanya berdampak pada hubungan dengan Allah, tetapi juga merusak hubungan sosial antar sesama.

Rasulullah SAW pun memberikan teladan nyata tentang rendah hati. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, beliau bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun sebesar biji sawi.”
Hadits ini menegaskan betapa seriusnya bahaya kesombongan dan betapa pentingnya membiasakan sikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.

Agar seseorang mudah bersikap rendah hati, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Pertama, menyadari bahwa semua kelebihan adalah amanah dari Allah, bukan hasil mutlak usaha pribadi. Kedua, membiasakan diri untuk mendengar dan menghargai pendapat orang lain. Ketiga, sering mengingat keterbatasan diri dan hakikat manusia yang lemah. Keempat, bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat agar tumbuh empati dan rasa persaudaraan.

Manfaat rendah hati sangat besar, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Bagi diri sendiri, rendah hati membuat hati lebih tenang, terhindar dari iri dan dengki, serta membuka pintu ilmu dan kebijaksanaan. Bagi orang lain, sikap ini menciptakan suasana yang nyaman, mempererat hubungan sosial, dan menumbuhkan rasa saling menghormati. Di lingkungan kerja, keluarga, maupun masyarakat, orang yang rendah hati cenderung lebih dipercaya dan dicintai.

Dengan demikian, rendah hati adalah kunci akhlak mulia yang membawa kebaikan dunia dan akhirat. Ia bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan jiwa dan kematangan iman seorang muslim.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *