Al-Quran Penyejuk Hati Bacalah Setiap Hari

www.bmtpas.com Surat Fathir ayat 29–30 adalah dua ayat agung yang menggambarkan karakter utama para hamba Allah yang dekat dengan Al-Qur’an dan amal saleh. Ayat ini turun sebagai pujian dan pengokohan motivasi bagi kaum Muslimin untuk terus berpegang teguh pada Al-Qur’an, meski saat itu mereka menghadapi tekanan dari kaum musyrikin Mekah. Para ulama tidak menyebutkan asbābun nuzūl yang khusus, namun ayat ini dipahami sebagai dorongan umum untuk memperkuat ibadah dan kesabaran dalam kondisi sulit.

Menurut para mufassir seperti Ibn Katsir, Al-Qurthubi, dan As-Sa‘di, ayat ini merangkum tiga pilar amal: tilawah, shalat, dan infak, yang kesemuanya menjadi sebab perdagangan spiritual yang tidak pernah merugi. Menariknya, Allah menggunakan istilah “tijārah”—perdagangan—yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Arab, agar mereka memahami bahwa amal saleh adalah investasi abadi yang pasti mendatangkan laba.

Pertama, “yatlūna kitāballāh” tidak sekadar membaca huruf-huruf Al-Qur’an, tetapi juga memahami, merenungi, dan mengamalkannya. Ibn Katsir menegaskan bahwa tilawah mencakup dua makna: tilawah lafziyyah (membaca) dan tilawah hukmiyyah (mengikuti hukum). Maka siapa yang membaca tanpa tadabbur, ia baru meraih sebagian dari keutamaan ayat ini.

Kedua, mereka mendirikan salat (aqāmūṣ-ṣalāh). Bukan hanya sekadar menunaikannya, tetapi melaksanakannya secara sempurna sesuai syarat, rukun, kekhusyukan, dan waktunya. Salat adalah bukti hubungan langsung hamba dengan Rabbnya, dan menjadi fondasi segala amal.

Ketiga, mereka berinfak, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Para ulama menjelaskan bahwa infak mencakup zakat wajib maupun sedekah sunnah. Disebutkan dua kondisi—sembunyi dan terang—untuk menunjukkan keluasan kesempatan beramal, serta keikhlasan yang tidak terbatasi tempat dan waktu.

Tiga amal ini membuat mereka “mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah merugi”. Imam As-Sa‘di menyatakan bahwa seluruh amal saleh pada hakikatnya adalah transaksi dengan Allah, di mana keuntungan besarnya bukan di dunia, tetapi di akhirat dalam bentuk pahala yang berlipat-lipat.

Ayat berikutnya menjelaskan buah dari amal tersebut: Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Artinya, bukan hanya balasan standar atas amal, tetapi Allah memberi tambahan dari kemurahan-Nya. Ayat ini ditutup dengan dua nama Allah: Al-Ghafūr (Maha Pengampun) dan Asy-Syakūr (Maha Mensyukuri). Menurut Imam Al-Qurthubi, makna Asy-Syakūr adalah Allah memberikan balasan besar atas amal kecil, bahkan melipatgandakannya.

Langkah-Langkah Praktis Mengamalkannya

  1. Menjadwalkan tilawah harian minimal beberapa ayat dengan tadabbur. Catat poin penting untuk diamalkan.

  2. Menjaga kualitas salat, memperbaiki kekhusyukan, dan disiplin waktu. Upayakan salat sunnah rawatib sebagai penambah kualitas.

  3. Mengalokasikan dana infak secara rutin, misalnya persentase tertentu dari pendapatan bulanan.

  4. Berinfak secara seimbang, sebagian disembunyikan untuk keikhlasan, sebagian terang-terangan untuk memberi teladan.

  5. Mengaitkan setiap amal dengan “perdagangan akhirat”, yakni menata niat bahwa semua dilakukan untuk keuntungan abadi.

  6. Memohon ampunan dan karunia Allah, karena Dia adalah Al-Ghafūr Asy-Syakūr yang melipatgandakan pahala.

Ayat ini meneguhkan bahwa siapa pun yang menjadikan Al-Qur’an, salat, dan infak sebagai pilar hidup, maka Allah menjamin baginya keuntungan yang tidak pernah merugi—sebuah investasi terbesar menuju akhirat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *