www.bmtpas.com Tanggal 28 Oktober 2026 menjadi momentum penting untuk kembali merenungkan makna Sumpah Pemuda bagi perjalanan bangsa Indonesia. Pada tahun ini, kita memperingati 98 tahun peristiwa bersejarah yang melahirkan tekad persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa. Sumpah Pemuda bukan sekadar kenangan tentang perjuangan generasi muda pada masa lalu, melainkan warisan nilai yang terus relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang suku, daerah, dan organisasi menyatakan tekad untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Pilihan terhadap bahasa Indonesia merupakan keputusan yang sangat strategis. Di tengah keragaman bahasa daerah, para pemuda memilih sebuah bahasa bersama sebagai jembatan komunikasi dan identitas kebangsaan.
Hampir satu abad kemudian, keputusan tersebut memperlihatkan hasil yang semakin luas. Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi alat komunikasi di dalam negeri, tetapi juga berkembang menjadi sarana diplomasi, pendidikan, pertukaran budaya, dan hubungan internasional.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia.” Tema ini mengajak generasi muda untuk mencintai tanah air, tekun menghadapi tantangan, serta peduli kepada sesama. Dalam konteks kebahasaan, semangat tersebut dapat diwujudkan dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik, mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bahasa Indonesia, dan memperkenalkannya kepada masyarakat dunia.
Bahasa Indonesia semakin mendunia: apa buktinya?
Perkembangan bahasa Indonesia di tingkat internasional tidak cukup dinilai dari kebanggaan atau popularitas semata. Kita perlu melihat bukti yang dapat diukur, seperti pengakuan lembaga internasional, jumlah pemelajar asing, jaringan lembaga pengajaran, dan pemanfaatannya dalam pendidikan lintas negara.
Beberapa perkembangan berikut menunjukkan kemajuan yang nyata.
1. Pengakuan sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO
Pada 20 November 2023, UNESCO menetapkan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi Konferensi Umumnya melalui Resolusi 42 C/28. Bahasa Indonesia menjadi bahasa ke-10 dalam daftar tersebut. Status ini memungkinkan penggunaannya dalam sidang dan penerjemahan dokumen tertentu. Namun, bahasa Indonesia belum termasuk enam bahasa kerja UNESCO yang digunakan untuk interpretasi simultan secara rutin.
Data resmi Badan Bahasa pada 2026 mencatat program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) telah menjangkau 62 negara, dengan 520 lembaga penyelenggara, 352 pengajar, dan sekitar 234.108 pemelajar. Angka ini memperlihatkan luasnya jaringan pembelajaran bahasa Indonesia di luar negeri.
3. Bahasa Indonesia masuk ke pendidikan tinggi internasional
Bahasa Indonesia dipelajari di sejumlah perguruan tinggi luar negeri. Salah satu perkembangan penting terjadi di Universitas Al-Azhar, Mesir. Pada tahun akademik 2024/2025, tercatat 51 mahasiswa memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua di Fakultas Bahasa dan Terjemah. Data ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia dapat berkembang dalam sistem pendidikan formal, bukan hanya melalui kursus singkat.
4. Diplomasi bahasa dan budaya semakin aktif
Festival Handai Indonesia 2026 menjadi salah satu sarana apresiasi bagi warga asing yang belajar bahasa Indonesia. Kegiatan semacam ini menghubungkan pembelajaran bahasa dengan pemahaman budaya, masyarakat, dan peradaban Indonesia.
Apa arti bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional?
Bahasa internasional bukan sekadar bahasa yang digunakan oleh banyak orang. Status dan peran internasional suatu bahasa juga ditentukan oleh seberapa luas bahasa tersebut digunakan dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, perdagangan, diplomasi, dan komunikasi antarbangsa.
Dalam konteks itu, perkembangan bahasa Indonesia dapat dilihat melalui beberapa dimensi.
Pertama, pengakuan kelembagaan internasional. Pengakuan UNESCO memberikan landasan resmi bagi penggunaan bahasa Indonesia dalam forum organisasinya. Ini merupakan pencapaian diplomasi kebahasaan yang penting.
Kedua, perluasan pembelajaran di luar negeri. Semakin banyak lembaga yang menyediakan program BIPA, semakin besar peluang bahasa Indonesia dipelajari secara terstruktur dan diwariskan kepada generasi baru pemelajar asing.
Ketiga, peningkatan fungsi diplomasi. Bahasa membantu diplomat, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat asing berkomunikasi secara lebih langsung dengan Indonesia. Penguasaan bahasa juga dapat memperdalam pemahaman terhadap cara berpikir dan budaya masyarakat Indonesia.
Keempat, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahasa Indonesia perlu semakin banyak digunakan dalam publikasi ilmiah, konferensi, penerjemahan karya, teknologi digital, kecerdasan buatan, serta sumber belajar daring. Bidang-bidang ini menentukan apakah bahasa Indonesia dapat menjadi sarana produksi pengetahuan, bukan sekadar objek yang dipelajari.
Kelima, penguatan nilai ekonomi dan budaya. Bahasa Indonesia dapat membuka akses kepada pasar Indonesia, industri kreatif, pariwisata, seni, kuliner, dan kerja sama profesional. Semakin besar manfaat praktisnya, semakin kuat pula alasan orang asing untuk mempelajarinya.
Perlu ditegaskan bahwa pengakuan UNESCO dan pertumbuhan BIPA merupakan capaian nyata, tetapi keduanya belum berarti bahasa Indonesia telah setara dengan bahasa Inggris dalam seluruh fungsi global. Internasionalisasi adalah proses bertahap yang membutuhkan perluasan penggunaan, mutu pengajaran, dan konsistensi kebijakan.
Mengapa semakin banyak warga asing belajar bahasa Indonesia?
Minat warga asing untuk mempelajari bahasa Indonesia dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling berkaitan.
1. Peluang ekonomi dan hubungan bisnis
Indonesia merupakan negara dengan pasar domestik yang besar serta memiliki hubungan perdagangan dan investasi dengan berbagai negara. Bagi sebagian warga asing, kemampuan berbahasa Indonesia membantu mereka memahami konsumen, bernegosiasi, membangun jaringan, dan bekerja sama dengan mitra lokal. Bahasa menjadi keterampilan praktis untuk menunjang aktivitas profesional.
2. Pariwisata dan pengalaman tinggal di Indonesia
Indonesia memiliki beragam destinasi wisata, budaya, dan kehidupan masyarakat. Wisatawan yang ingin tinggal lebih lama, berinteraksi dengan penduduk setempat, atau menjelajahi daerah di luar kawasan wisata utama akan memperoleh manfaat dari kemampuan berbahasa Indonesia. Bahasa membantu pengalaman perjalanan menjadi lebih dekat dan bermakna.
3. Pendidikan, penelitian, dan beasiswa
Mahasiswa, peneliti, dan akademisi asing membutuhkan bahasa Indonesia untuk mempelajari masyarakat, sejarah, politik, ekonomi, sastra, dan kebudayaan Indonesia. Keberadaan program bahasa Indonesia di perguruan tinggi membantu menyediakan jalur pembelajaran yang lebih sistematis.
4. Diplomasi dan kerja sama antarnegara
Hubungan diplomatik, program pertukaran, serta kerja sama pemerintah dan lembaga pendidikan membuka kebutuhan untuk memahami bahasa mitra. Kemampuan berbicara dalam bahasa Indonesia juga membantu diplomat dan tenaga profesional membangun hubungan sosial yang lebih baik. Program BIPA untuk diplomat negara sahabat merupakan salah satu contoh pendekatan ini.
5. Ketertarikan pada budaya dan industri kreatif
Musik, film, sastra, kuliner, batik, dan konten kreator Indonesia dapat memicu rasa ingin tahu terhadap bahasa yang digunakan masyarakatnya. Sebagian orang ingin memahami lirik, percakapan, humor, dan karya budaya secara langsung tanpa selalu bergantung pada terjemahan.
6. Akses pembelajaran digital
Video, aplikasi belajar bahasa, kelas daring, media sosial, dan bahan ajar digital membuat proses belajar lebih mudah dijangkau. Pemelajar tidak selalu harus datang ke Indonesia atau mengikuti kelas tatap muka. Akses yang lebih luas dapat menekan hambatan jarak dan biaya.
7. Relatif mudah untuk mulai dipelajari
Ejaan bahasa Indonesia cukup konsisten, tidak menggunakan sistem nada leksikal seperti bahasa Mandarin, dan kata kerja umumnya tidak berubah mengikuti orang atau kala seperti dalam sejumlah bahasa Eropa. Hal ini dapat memudahkan pemula. Meski demikian, imbuhan, ragam formal dan informal, serta konteks budaya tetap memerlukan pembelajaran yang serius.
Catatan analitis: apakah semua faktor memiliki pengaruh yang sama?
Tidak. Pengaruhnya berbeda menurut latar belakang pemelajar. Seorang diplomat mungkin lebih terdorong oleh kebutuhan tugas dan hubungan antarnegara. Mahasiswa dapat memiliki motivasi akademik, sedangkan wisatawan tertarik pada pengalaman perjalanan. Bagi pekerja asing, peluang bisnis dan kebutuhan berkomunikasi di tempat kerja mungkin lebih dominan.
Selain itu, kenaikan jumlah pemelajar tidak bisa langsung dikaitkan dengan satu faktor saja. Data BIPA menunjukkan skala jangkauan program, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan alasan setiap orang belajar bahasa Indonesia. Untuk mengetahui faktor yang paling kuat secara ilmiah, diperlukan survei pemelajar, data pendaftaran dan kelulusan, serta penelitian mengenai motivasi belajar di berbagai negara.
Tantangan agar bahasa Indonesia semakin kuat di dunia
Kemajuan bahasa Indonesia patut diapresiasi, tetapi ada beberapa pekerjaan yang perlu dilanjutkan.
-
Meningkatkan mutu pengajaran BIPA. Materi harus disesuaikan dengan kebutuhan pemelajar, baik untuk tujuan akademik, pekerjaan, diplomasi, maupun pariwisata.
-
Memperluas kerja sama perguruan tinggi. Kemitraan perlu mendorong pembukaan program studi, pertukaran mahasiswa, riset bersama, dan penerbitan karya ilmiah.
-
Memperbanyak sumber pengetahuan berbahasa Indonesia. Karya ilmiah, buku, dokumentasi budaya, dan materi digital perlu tersedia dengan mutu tinggi serta mudah diakses secara global.
-
Memperkuat teknologi kebahasaan. Pengembangan kamus digital, penerjemah, korpus bahasa, pengenalan suara, dan model kecerdasan buatan akan membantu bahasa Indonesia tetap relevan dalam ekonomi digital.
-
Menjaga mutu penggunaan bahasa di dalam negeri. Bahasa Indonesia perlu digunakan dengan cermat dalam pendidikan, administrasi publik, komunikasi profesional, dan karya ilmiah.
-
Merawat bahasa daerah. Penguatan bahasa Indonesia tidak harus mengurangi penghargaan terhadap bahasa daerah. Keduanya dapat tumbuh bersama: bahasa Indonesia sebagai pemersatu dan bahasa daerah sebagai kekayaan identitas serta pengetahuan lokal.
Penutup: dari bahasa persatuan menuju bahasa dunia
Sumpah Pemuda 1928 membuktikan bahwa bahasa dapat menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat dengan latar belakang berbeda. Para pemuda kala itu tidak menunggu sampai bangsa Indonesia merdeka untuk membangun identitas bersama. Mereka justru menjadikan bahasa sebagai salah satu fondasi untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Kini, pada peringatan Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026, bahasa Indonesia menghadapi kesempatan yang lebih luas. Pengakuan UNESCO, jangkauan BIPA di 62 negara, serta keberadaan ratusan lembaga penyelenggara pembelajaran merupakan modal penting untuk memperkuat kedudukan bahasa Indonesia di dunia.
Namun, bahasa yang mendunia tidak cukup hanya dibanggakan. Bahasa itu harus terus digunakan, dikembangkan, diajarkan, dan dijadikan sarana untuk menghasilkan pengetahuan serta membangun kerja sama. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di pundak pemerintah, tetapi juga perguruan tinggi, pendidik, pelaku usaha, komunitas budaya, media, dan generasi muda.
Semangat Sumpah Pemuda pada 2026 dapat diwujudkan dengan menjadikan bahasa Indonesia semakin bermartabat di dalam negeri dan semakin bermanfaat bagi masyarakat dunia. Kita tidak perlu merendahkan bahasa lain untuk mengangkat bahasa sendiri. Justru dengan menguasai bahasa asing sambil menjaga kecintaan terhadap bahasa Indonesia, generasi muda dapat berdiri lebih percaya diri dalam pergaulan internasional.
Dari bahasa persatuan, kita membangun persahabatan antarbangsa. Dari warisan para pemuda 1928, kita menyiapkan masa depan bahasa Indonesia untuk generasi berikutnya.