Menabung Biaya Haji: Rupiah, Dollar, atau Emas?

www.bmtpas.com Naik haji adalah cita-cita sebagian besar umat Islam. Namun, seiring berjalannya waktu, biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH/ONH) terus mengalami kenaikan. Pertanyaan penting pun muncul: jika kita ingin menabung untuk haji dalam jangka panjang, apakah lebih baik menyimpannya dalam bentuk rupiah, dollar, atau emas? Untuk menjawabnya, mari kita menengok data riil dari beberapa periode.

Pada tahun 2000, biaya haji di Indonesia berada di kisaran Rp 20 juta. Jika dikonversi ke dollar dengan kurs sekitar Rp 7.050/USD, biaya haji setara kurang lebih USD 2.800. Sementara jika dikonversi ke emas, dengan harga emas saat itu Rp 85.000 per gram, biaya haji membutuhkan sekitar 235 gram emas. Sepuluh tahun kemudian, pada 2010, biaya haji naik menjadi sekitar Rp 34 juta. Jika dihitung dalam dollar, biayanya setara USD 3.700. Sedangkan dalam ukuran emas, biaya haji justru turun menjadi sekitar 97 gram emas, karena harga emas naik pesat menjadi Rp 350.000 per gram.

Lompatan berikutnya terjadi pada 2023. Biaya haji (ONH) mencapai sekitar Rp 50 juta, sementara total BPIH mendekati Rp 90 juta. Dengan kurs Rp 16.300/USD, biaya haji setara sekitar USD 3.100. Jika dihitung menggunakan harga emas yang mencapai Rp 1,1 juta per gram, biaya haji hanya sekitar 45 gram emas. Pada 2024, biaya haji kembali naik menjadi Rp 56 juta. Namun dalam bentuk emas, nilainya semakin kecil, hanya sekitar 41 gram.

Data ini menunjukkan perbedaan mencolok. Jika dihitung dengan rupiah, biaya haji meningkat hampir tiga kali lipat dari tahun 2000 ke 2024. Dalam dollar, kenaikan hanya tipis, dari USD 2.800 menjadi USD 3.400. Sementara dalam emas, biaya haji justru semakin murah: dari 235 gram emas di tahun 2000 turun menjadi hanya 41 gram di tahun 2024. Dengan kata lain, emas bukan hanya mampu melindungi nilai, tetapi juga memberikan keuntungan nyata bagi mereka yang menabung jangka panjang untuk haji.

Bayangkan ada tiga orang yang sama-sama mulai menabung biaya haji sejak tahun 2000. Pak Joko menyimpan Rp 20 juta. Dua puluh empat tahun kemudian, tabungan itu jauh dari cukup, karena biaya haji sudah Rp 56 juta. Ia harus menambah hampir tiga kali lipat. Bu Siti memilih menabung dalam bentuk dollar sebesar USD 2.800. Pada tahun 2024, biaya haji USD 3.400, sehingga ia hanya perlu menambah sedikit. Sementara Pak Budi menabung emas sebesar 235 gram. Ketika tahun 2024 tiba, biaya haji cukup dengan 41 gram emas. Itu berarti emasnya bukan hanya cukup, tapi bahkan bisa membiayai beberapa anggota keluarga sekaligus.

Dari ilustrasi nyata ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa rupiah sangat rentan terhadap inflasi, sehingga biaya haji terasa semakin berat bila hanya mengandalkan tabungan rupiah. Dollar lebih stabil, meski tetap mengalami kenaikan. Namun emas terbukti paling menguntungkan, karena nilainya tidak hanya terjaga, tetapi juga membuat biaya haji terasa semakin ringan dari waktu ke waktu.

Bagi siapa pun yang berencana menabung haji jangka panjang, menyimpan dalam bentuk emas adalah strategi paling bijak. Emas terbukti tidak hanya melawan inflasi, tetapi juga menjaga mimpi berhaji tetap dalam jangkauan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *