QS. Al-A’raf Ayat 56: Larangan Merusak Bumi dan Perintah Menebarkan Kebaikan

Pendahuluan

www.bmtpas.com QS. Al-A’raf ayat 56 merupakan salah satu ayat penting yang menjelaskan hubungan antara manusia, alam, dan Allah SWT. Ayat ini mengandung larangan melakukan kerusakan di muka bumi, perintah berdoa dengan rasa takut dan penuh harap, serta kabar gembira bahwa rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.

Pesan ayat ini tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan secara fisik, tetapi juga mencakup kerusakan moral, sosial, dan kehidupan beragama. Allah menghendaki agar manusia menjadi makhluk yang menjaga kebaikan, bukan justru merusaknya.

Teks Arab dan Terjemahan

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Al-A’raf: 56)

Larangan Membuat Kerusakan Setelah Bumi Diperbaiki

Bagian pertama ayat berbunyi:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”

Menurut penjelasan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, larangan ini mencakup berbagai bentuk perbuatan yang menyebabkan kerusakan setelah Allah memperbaiki keadaan bumi melalui pengutusan para rasul, penegakan syariat, dan petunjuk agama.

Dengan demikian, makna ishlah (perbaikan) tidak hanya berkaitan dengan keadaan alam, tetapi juga mencakup keteraturan kehidupan manusia berdasarkan petunjuk Allah.

Sementara itu, fasad (kerusakan) mencakup perbuatan maksiat, kemusyrikan, kezaliman, dan berbagai tindakan yang menyimpang dari ketentuan Allah.

Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar larangan melakukan kerusakan dalam berbagai bentuk. Kerusakan dapat muncul ketika manusia meninggalkan ketaatan kepada Allah dan melakukan tindakan yang merugikan kehidupan.

Dari penjelasan tersebut, kita dapat memahami bahwa kerusakan bumi tidak boleh dipersempit hanya pada persoalan pencemaran lingkungan. Merusak alam memang termasuk fasad, tetapi merusak keadilan, menghancurkan persaudaraan, menyebarkan kebencian, melakukan penipuan, dan mengambil hak orang lain juga merupakan bagian dari kerusakan.

Sebaliknya, menjaga lingkungan, menegakkan keadilan, membangun hubungan sosial yang baik, dan menjalankan amanah merupakan bentuk nyata dari upaya melakukan ishlah.

Berdoa dengan Rasa Takut dan Penuh Harap

Bagian berikutnya berbunyi:

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا

“Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap.”

Ayat ini mengajarkan keseimbangan dalam hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya berdoa dengan rasa takut terhadap azab dan hukuman Allah, sekaligus mengharapkan ampunan, pahala, dan rahmat-Nya.

Rasa takut (khauf) membuat seseorang berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Ia tidak mudah melakukan dosa karena menyadari bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Sementara itu, harapan (thama’) membuat seseorang tidak mudah berputus asa. Sebesar apa pun kesalahan yang pernah dilakukan, pintu taubat dan ampunan Allah tetap terbuka bagi hamba yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

Keduanya harus berjalan seimbang. Rasa takut tanpa harapan dapat membuat seseorang merasa tidak memiliki kesempatan memperoleh ampunan Allah. Sebaliknya, harapan tanpa rasa takut dapat membuat seseorang meremehkan dosa dan merasa aman dari pertanggungjawaban.

Oleh karena itu, doa bukan sekadar permintaan agar keinginan duniawi terpenuhi. Doa juga merupakan pengakuan atas kelemahan manusia, ketergantungan kepada Allah, dan kesungguhan untuk memperbaiki diri.

Rahmat Allah Dekat dengan Orang yang Berbuat Ihsan

Bagian terakhir ayat berbunyi:

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Inilah bagian yang memberikan harapan sekaligus motivasi bagi setiap muslim. Allah tidak hanya melarang manusia berbuat kerusakan, tetapi juga menunjukkan jalan untuk mendapatkan rahmat-Nya, yaitu dengan menjadi orang-orang yang muhsin.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang-orang yang memperoleh kedekatan dengan rahmat Allah adalah mereka yang mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sementara itu, Imam As-Sa’di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman memberikan penjelasan yang lebih luas. Menurutnya, ihsan mencakup dua hal, yaitu berbuat baik dalam beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia.

Semakin baik kualitas ihsan seseorang, semakin dekat pula ia dengan rahmat Allah.

Dengan demikian, ihsan bukan sekadar melakukan kebaikan sesekali. Ihsan merupakan sikap hidup yang tercermin dalam kesungguhan beribadah, kejujuran, amanah, kepedulian, dan kesediaan memberikan manfaat kepada orang lain.

Orang yang berbuat ihsan tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Ia juga berusaha agar kehadirannya membawa kebaikan bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan.

Hubungan antara Menjaga Bumi, Berdoa, dan Berbuat Ihsan

Jika diperhatikan secara menyeluruh, ketiga pesan dalam ayat ini memiliki hubungan yang sangat erat.

Pertama, manusia dilarang melakukan kerusakan. Kedua, manusia diperintahkan memperkuat hubungan dengan Allah melalui doa yang dilandasi rasa takut dan harapan. Ketiga, manusia diarahkan menjadi pribadi yang senantiasa berbuat ihsan.

Artinya, kesalehan tidak cukup hanya ditunjukkan melalui banyaknya doa dan aktivitas ibadah. Kesalehan juga harus terlihat dari perilaku dan kontribusi nyata dalam kehidupan.

Seseorang yang rajin beribadah semestinya semakin jujur dalam bekerja, semakin amanah dalam menjalankan tanggung jawab, dan semakin peduli terhadap orang lain.

Demikian pula, seseorang yang mengaku mencintai Allah seharusnya tidak merusak alam, mengambil hak orang lain, menyebarkan permusuhan, atau melakukan tindakan yang merugikan masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, ayat ini dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana: menjaga kebersihan lingkungan, menghindari pemborosan, memelihara kerukunan, membantu orang yang membutuhkan, serta menjalankan pekerjaan dengan jujur dan bertanggung jawab.

Semua itu merupakan bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih baik.

Penutup: Menjadi Bagian dari Perbaikan, Bukan Kerusakan

QS. Al-A’raf ayat 56 mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kehidupan di bumi. Jangan sampai sesuatu yang telah Allah ciptakan dalam keadaan baik justru dirusak oleh keserakahan, kemaksiatan, dan perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab.

Ayat ini juga mengingatkan bahwa hubungan dengan Allah harus dibangun melalui keseimbangan antara rasa takut dan harapan. Rasa takut menjaga kita agar tidak melampaui batas, sedangkan harapan membuat kita terus bersemangat memperbaiki diri.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang muslim bukan hanya terlihat dari kesalehan pribadinya, tetapi juga dari seberapa besar kebaikan yang dihadirkannya bagi kehidupan.

Jadilah manusia yang kehadirannya memperbaiki, bukan merusak. Jadilah pribadi yang doanya menguatkan hubungan dengan Allah dan perbuatannya menghadirkan manfaat bagi sesama. Sebab, rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang senantiasa berbuat ihsan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *